menu
News keyboard_arrow_right
Docs By The Sea fasilitasi pendanaan film dokumenter
Beritagar.id - Sukses dengan Docs By The Sea 2017, In-Docs dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) kembali menyelenggarakan forum film dokumenter bertaraf internasional, khususnya Asia Tenggara. Tahun ini, Docs By The Sea memfasilitasi pendanaan bagi pembuat film dokumenter. Pendanaan tersebut datang dari Go-Jek. Perusahaan rintisan ini bersama In-Docs dan Bekraf akan membuat skema pendanaan untuk film dokumenter yang pertama di Indonesia melalui program Docs By The Sea Co-Production Fund with Go-Jek. Program yang diikuti oleh 22 film dokumenter bertujuan untuk mendorong terciptanya film-film dokumenter berkualitas melalui mentorship, skema distribusi, dan pendanaan. Lima mentor internasional dalam program ini adalah Iikka Vehkalahti, Ulla Simonen, Peter Jaeger, Mikael Opstrup, dan Yael Bitton. Menurut Nila Marita, Chief Corporate Affairs Go-Jek, saat konferensi pers di Harris Vertu Hotel, Jakarta, Kamis (19/07/2018), pihaknya dibantu In-Docs dan Bekraf akan mendanai film, yang salah satu syaratnya, film tersebut mempunyai cerita berkualitas (mengangkat nilai-nilai yang relevan dengan situasi sosial saat ini). Sehingga film tersebut dapat didistribusikan ke pasar global. Saat ini, Go-Jek tengah memproduksi beberapa film melalui Go-Studio, dan menggarap aplikasi layanan menonton film digital. “Di Gojek, inovasi dan kreativitas adalah bagian dari pilar utama kami. Sejalan dengan misi kami, kami berharap bekerjasama dengan In-Docs dan Bekraf bisa punya akses ke lebih besar dan pendanaan maksimal untuk pelaku perfilman,” ujar Nila. Lebih lanjut Amelia Hapsari, Direktur Program In-Docs sekaligus penyelenggara Docs By The Sea, menjelaskan film dokumenter bisa menjadi tontonan alternatif masyarakat dan memberikan perspektif, ide, serta kesempatan bagi mereka pembuat film. Dan kemitraan Docs By The Sea dan Gojek ini bisa membuat film dokumenter lebih tersebar luas dan semakin banyak penonton. Bagi Ismail Fahmi Lubis, pembuat film dokumenter, program ini menjadi wadah pendanaan yang mendukung ekosistem film dokumenter. Karena selama ini, banyak pembuat film dokumenter membiayai produksi film mereka sendiri. Pada 2014-2016, Ismail memproduksi film dokumenter berjudul Tarling Is Darling (2017) dengan biayanya sendiri. Film yang mengisahkan pemusik Tarling di Indramayu ditayangkan perdana dalam Busan International Film Festival 2017 dan menjadi salah satu nominasi Film Dokumenter Panjang Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2017. Tahun ini, dua film dokumenter Ismail masuk dalam Docs By The Sea Co-Production Fund with Go-Jek. “Dari sini saya jadi belajar cara pitching, cara bikin proposal, meyakinkan klien agar mau mendanai film kita. Cara membawakannya pun harus kreatif, bukan cuma bikin film aja yang kreatif,” kata Ismail. Docs By The Sea 2018 akan diikuti 61 peserta dari 31 proyek film dokumenter. Mereka berasal dari 11 negara. Sedangkan mentor dan pembuat keputusan berisikan 42 pakar industri film dari 31 institusi atau perusahaan dari 14 negara. Kegiatan ini berlangsung pada 7-9 Agustus 2018 di Bali.