menu
News keyboard_arrow_right
Kekuatan Baru Docs By The Sea
Infoscreening.co, Jakarta, 19 Juli 2018 – Selama ini para sineas film dokumenter Indonesia seperti bekerja sendiri-sendiri dan secara gerilya memburu pendanaan untuk proyeknya masing-masing. Tahun lalu, Docs By The Sea membuat sebuah terobosan yang sangat menggembirakan, menciptakan wadah untuk para pembuat film dokumenter untuk mempresentasikan proyek mereka di hadapan banyak investor dan diberikan mentor. Dan hal itu pun berlanjut pada tahun ini. Saya masih ingat, tahun lalu, ketika konferensi pers Docs By The Sea pertama, perwakilan dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) sempat diberikan pertanyaan, apakah Bekraf akan terus mendukung Docs By The Sea ke depan. Secara singkat beliau menyatakan bahwa dukungan tersebut akan terus timbul jika kegiatan ini berjalan dengan baik dan ada hasilnya. MELIHAT KEMBALI DOCS BY THE SEA 2017 Setahun berlalu sejak perhelatan puncak Docs By The Sea 2017 di Nusa Dua, Bali. Akhirnya wadah yang sangat positif ini pun kembali diadakan. Bukankah bisa ditarik kesimpulan acara tahun lalu berjalan sukses dan mempunyai dampak yang baik? Bisa terbukti dari beberapa hal ini: tahun 2017, Docs By The Sea telah berhasil memfasilitasi empat co-produksi internasional, empat produksi televisi internasional, juga terpilihnya enam dokumenter Indonesia dan Asia Tenggara ke forum-forum dokumenter yang bergengsi di dunia. Baca juga: Jogja Movie Camp 2018: Workshop, Shooting, Camping! Kabar yang tidak kalah menggembirakan, proyek film “Pesantren” tentang kehidupan santri-santri yang dipimpin oleh perempuan di Cirebon yang disutradarai dan diproduseri oleh Shalahuddin Siregar berhasil direkomendasikan untuk dipresentasikan di IDFA forum di Amsterdam dan mendapatkan pre-sale dari Al-Jazeera. Film “Audio Perpetua” -menceritakan kelompok tuna netra di Manila yang bekerja sebagai penulis transkrip rekaman suara- berhasil mendapatkan seorang co-produser dari Finlandia dan sukses memberikan pendanaan untuk proyek ini. Beberapa hal tersebut menjadi oase bagi dunia dokumenter mengingat hampir tidak ditemukan pendanaan dari tanah air. KOLABORASI KEKUATAN Pada penyelenggaraan tahun ini, Docs By The Sea mendapatkan kekuatan baru yang tidak pernah ada sebelumnya di negeri ini: GO-JEK bergabung dengan Bekraf dan In-Docs menciptakan Docs By The Sea Co-Production Fund! Ini adalah sebuah skema pendanaan untuk film dokumenter yang pertama di Indonesia. Sebuah pertanda yang cerah untuk perfilman dokumenter negeri ini. Skema pendanaan ini bertujuan untuk mendorong terciptanya film-film dokumenter berkualitas lewat program bimbingan dari mentor, skema distribusi, dan pendanaan. DUKUNGAN DARI GO-STUDIO Amelia Hapsari, Direktur Program In-Docs menekankan pentingnya untuk menjangkau penonton-penonton Indonesia terhadap karya dokumenter, yang mana sulit sekali mengingat selama ini belum adanya platform untuk mendukung hal tersebut. GO-JEK dengan inisiatif barunya yaitu GO-STUDIO diharapkan dapat mengeliminasi kesulitan itu. Nila Marita, Chief Corporate Affairs GO-JEK mengatakan, “Inovasi dan kreatifitas adalah bagian dari pilar utama GO-JEK. Kami memiliki komitmen untuk terus mendukung ekonomi kreatif Indonesia, termasuk dukungan untuk komunitas pembuat konten lokal dan pelaku industri perfilman tanah air.” “Melalui GO-STUDIO, kami mendukung komunitas kreatif Indonesia untuk menggarap karya-karya yang berkualitas, sekaligus memberikan kesempatan kepada mereka terhadap akses penonton yang lebih luas. Kolaborasi ini diharapkan akan dapat memberi peluang bagi para pelaku industri film Indonesia agar karya-karyanya dapat dinikmati tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia,” lanjutnya. BENTUK DUKUNGAN DARI DOCS BY THE SEA 2018 Pada Docs By The Sea 2018, dua puluh proyek dokumenter Indonesia akan berkompetisi untuk memperoleh Docs By The Sea Co-Production Fund yang proses seleksinya akan berlangsung di Bali, tanggal 7 hingga 8 Agustus 2018. Pada perhelatan tahun ini juga ada 31 proyek dokumenter Asia Tenggara dan Australia yang akan mengikuti program inkubasi selama empat hari, lalu diikuti dengan pitching forum serta kegiatan-kegiatan industri lainnya selama tiga hari. Banyak institusi internasional yang telah memberikan konfirmasi kedatangannya di Docs By The Sea tahun ini, diantaranya Tribeca Film Institute (Amerika), Guardian (Inggris), Al-Jazeera (Qatar), SBS (Australia), Ideosource (Indonesia), POV (Amerika), Visions Du Reel (Swiss), Dok Leipzig (Jerman), Asian Network for Documentary (Korea Selatan), NHK (Jepang), dan Channel News Asia (Singapura), serta banyak lagi. Amelia Hapsari mengatakan, “Strategi kami adalah membangun kemitraan strategis dengan ahli-ahli industri dan institusi internasional yang memiliki visi yang sama, yaitu mendukung cerita-cerita terbaik yang mewakili perspektif beragam untuk membuka wawasan dan menginspirasi masyarakat.” Bapak Triawan Munaf sendiri menyatakan, “Saya amat bangga bahwa dalam waktu satu tahun, Docs By The Sea telah memungkinkan berbagai macam bentuk kolaborasi yang sangat mengagumkan, yang memberikan energi baru bagi kancah dokumenter Asia Tenggara. Saya melihat Docs By The Sea sebagai bukti bahwa kekayaan talenta dan kreativitas dari kawasan ini sudah siap untuk diaktivasi.” Bekraf sendiri berkomitmen bahwa dunia perfilman merupakan komponen ekosistem yang sedang dibangun dan membuka wawasan untuk banyak investor ke depannya agar lebih memahami bagaimana cara menginvestasikan dana mereka. Akhirnya, sebagai penutup, ada pernyataan menarik dari Ismail Fahmi Lubish, seorang sineas dokumenter yang juga partisipan Docs By The Sea tahun lalu. Ia bilang bahwa para pembuat film itu harusnya tidak hanya kreatif membuat film, tapi juga membuat proposal dan mengetahui cara pitching.